Mengenal Upacara Adat Rambu Solo

Sumber: indonesiakaya.com

NEWSWANTARA – Kematian menjadi sesuatu hal yang pasti dialami bagi setiap insan manusia. Di Indonesia sendiri, berbagai macam kepercayaan ritual adat istiadat kematian yang masing-masing memiliki keunikannya tersendiri dan membentuk menjadi suatu keragaman budaya.

Keberagaman budaya membentuk suatu hal yang menarik dari setiap ritual kematian yang ada di masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Rambu Solo salah satunya, upacara adat kematian yang merupakan bagian dari ritual kepercayaan masyarakat Tana Toraja yang menarik untuk disaksikan.

Upacara adat Rambu Solo merupakan upacara adat kematian masyarakat Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang telah meninggal dunia menuju alam roh. Kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.

Masyarakat Toraja percaya, tanpa upacara Rambu Solo akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya. Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.

Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian. Ini dikarenakan orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara Rambu Solo dipenuhi. Jika tidak dilaksanakan maka orang yang telah meninggal dunia tersebut masih dianggap seperti orang sakit yang masih diperlakukan seperti halnya orang hidup.

Sumber: liputanindonesianews.com
Sumber: liputanindonesianews.com

Upacara pemakaman Rambu Solo merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana. Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.

Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10-50 juta bahkan lebih per ekornya.

Tidak hanya adat istiadatnya yang memiliki daya tarik tersendiri, nilai yang dapat diambil pun banyak dari upacara adat Rambu Solo. Masih tingginya partisipasi masyarakat dalam menjaga kearifan lokal patut diteladani dalam melestarikan budaya leluhur. Nilai-nilai lainnya tercermin seperti budaya gotong-royong yang telah menjadi identitas bangsa teraplikasi utuh dalam masyarakat Toraja.


Baca Juga:

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz