Taman Nasional Lorentz, Surganya Keanekaragaman Hayati

Sumber: alidesta.wordpress.com

NEWSWANTARA – Keanekaragaman hayati Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia jika dibandingkan dengan negara-negara yang beriklim tropis di Benua Amerika dan Afrika. Satu diantaranya hayati yang terdapat di Taman Nasional Lorentz di Pulau Papua.

Taman nasional yang memiliki ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Taman Nasional Lorentz terletak diantara dua provinsi yaitu Provinsi Papua tepatnya di Kabupaten Jayawijaya, Paniai dan Merauke serta Provinsi Papua Barat yaitu Kabupaten Fak-Fak.

Baca Juga : Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Mengunjungi Raja Ampat

Wilayahnya yang membentang dari puncak gunung Jayawijaya dengan ketinggian 5.030 mdpl yang diselimuti oleh salju abadi hingga perairan pesisir dengan hutan bakaunya di laut arafuru. Nama Taman Nasional Lorentz sendiri diambil dari nama seseorang berkewarganegaraan Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz, yang melewati daerah tersebut pada tahun 1909 dalam ekspedisinya yang ke-10 di taman nasional ini

Taman Nasional Lorentz memiliki luas sebesar 2.505.600 hektar yang sebagian besar kawasan ini merupakan hutan dengan kondisi masih ‘perawan’. Jenis satwa yang diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (±70% dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia.

Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu dan 20 jenis endemik diantaranya Cenderawasih ekor panjang dan puyuh salju.

satwa khas Taman Nasional Lorentz, Sumber: penabiru.com
satwa khas Taman Nasional Lorentz, Sumber: penabiru.com

Beberapa jenis mamalia seperti babi duri moncong panjang, babi duri moncong pendek, walabi, kucing hutan, 4 jenis kuskus, kanguru pohon. Hewan yang digemari disini adalah spesies burung, karena coraknya yang unik menjadi kenampakan yang paling ditunggu-tunggu bagi para wisatawan yang berkunjung ke taman nasional Lorentz.

Keanekaragaman hayati di taman nasional ini diperkirakan berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat tinggal suku-suku yang ada disana seperti suku Nduga, Asmat, Dani Barat, Amungme, Sempan. Kemungkinan di taman nasional ini masih ada suku terpencil yang belum pernah berinteraksi dengan peradaban modern.

Sistem masyarakat Suku Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain. Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon.

Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka.

Suku Asmat, sumber: indonesia-tourism.com
Suku Asmat, sumber: indonesia-tourism.com

Keunikan lain dari Taman Nasional Lorentz ini adalah adanya gletser di kawasan tropis seperti di Indonesia dan sungai yang membentang beberapa kilometer dalam tanah di lembah Baliem.

Perpaduan ketiga hal tersebut di atas, yaitu kekayaan keanekaragaman hayati, gejala alam dan panorama alam, serta budaya masyarakat tradisionalnya yang demikian tinggi merupakan potensi pariwisata yang luar biasa.

Atas dasar keunikan dan keragaman hayati yang dimiliki, pada tahun 1999 Taman Nasional Lorentz ditetapkan menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO yang berada di Indonesia. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dikembangkan di kawasan ini, diantaranya pertunjukan kehidupan liar, pendakian puncak jaya, dan atraksi budaya.

Berikan Komentar Anda

avatar